fbpx

Berbisnis Bukan Semata Urusan Materi, Tapi Juga Berguna untuk Anak Negeri

Profil Founder GARUTKULIT : Sumarni Rifemi

Kompasiana.com — Garut — Seperti pepatah mengatakan, ‘Lebih baik menjadi kepala ayam dari pada menjadi ekor banteng’. Prinsip yang sama juga dipegang oleh sosok wanita manis asal Garut, Sumarni Rifemi. Menjadi pengusaha muda merupakan impiannya sejak kecil. Tinggal dan besar di Garut, Ani tumbuh diantara banyak pengusaha dan pedagang asli daerah sana. Membuatnya kian tertantang untuk ikut melakukan hal yang sama, atas dasar kesukaannya semata.

Lulus SMA, Ani diterima di Institut Teknologi Bandung, dengan mengambil jurusan Matematika. Baginya, urusan hitung-hitungan juga jadi kegemarannya. Berada di salahsatu kampus terdepan di Indonesia, Ani belajar banyak menjadi mahasiswa yang aktif berkegiatan. Lingkungan yang sarat akan ide-ide kreatif khas anak Bandung, makin membuatnya berniat untuk memantapkan diri menjadi pengusaha di masa depan.

“Pada dasarnya, saya doyan berdagang. Walaupun sempat bekerja di Schlumberger, bukan berarti saya ingin meniti karir di perusahaan tersebut. Itu semata-mata hanya sebagai pembuktian, bahwa saya bisa mendapatkan pekerjaan yang katanya menjadi idaman lulusan anak Teknik,” jawabnya dengan santai di kediamaan HQ GARUTKULIT , perusahaan produk kulit asli Garut miliknya.

Bekerja di Schlumberger memang menggiurkan, mendapatkan gaji yang fenomenal sebagai lulusan muda nampaknya adalah tolak ukur kesuksesan bagi sebagian besar orang. Tapi, Ani menginginkan hal lebih yang bisa dilakukannya sendiri. Bertemu jodohnya di kantor yang sama, Ani lantas menikah dengan Yasser Putra Rifemi dan memutuskan untuk berhenti sebagai karyawan setelah 4 tahun lamanya bergelut dengan dunia perminyakan.

Dan, pada momen inilah, wanita yang kini berusia 29 tahun ini mulai tergerak untuk memulai bisnisnya sendiri. Support penuh suami makin memantapkannya untuk menjadi pebisnis andal. “Suami sangat mensupport saya untuk memulai bisnis ini. Bahkan, kami merelakan garasi rumah untuk dijadikan workshop perdana kami, sebagai pengusaha produk kulit,” tambahnya.

“Ya, Ani pun memutuskan pilihan bisnis pada produk kulit asli Garut. Ide untuk memberdayakan kekayaan daerah asal saya sudah dipikirkan lama, sebenarnya. Makanya, nggak ada salahnya pilihan jatuh kepada berjualan produk kulit. Kenapa, karena Garut memang salah satu pemasok bahan kulit terbesar di Indonesia. Networking pun bisa dibangun dengan baik, karena saya lahir dan besar di Garut,” paparnya dengan penuh semangat.

Maka, terbentuklah brand GARUTKULIT di tahun 2014. Karakter Ani yang supel, cerdas, dan pekerja keras, adalah modal kuat dalam menjalani proses brand kesayangannya ini berkembang. Produk yang didominasi oleh ragam tas kulit ini, menghadirkan kualitas kulit yang mumpuni asli negeri sendiri. Ani juga merekrut para artisan yang merupakan pemain lama dalam urusan kerajinan kulit ini. Tak heran jika dalam proses pembuatannya, Ani tidak perlu menjelaskannya secara bertele-tele.

Satu visi dan misi, tim GARUTKULIT melaju perlahan tapi pasti. Menerima orderan souvenir kantoran sudah menjadi langganan utamanya, ini juga berkat ketelatenan Ani membangun koneksi antar sesama pertemanannya yang bekerja di perusahaan Negeri maupun Swasta kenamaan di Indonesia.
Namun begitu, bukan berarti proses ini selalu berjalan lancar. Sebagai entrepreneur, Ani juga seringkali menghadapi kesulitan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

“Satu waktu, pernah saya menerima orderan puluhan jaket. Namun, orderan tersebut mengharuskannya mendesain ragam jaket yang berbeda di tiap satuannya. Demi memuaskan pelanggan, akhirnya saya pun menerimanya. Toh, itu bisa jadi koleksi desain katalog saya ke depannya,” ungkap Ani.

Tuntutan untuk selalu berpikir kreatif dan inovatif memang wajib dijalani oleh Ani sebagai pengusaha muda. Pesatnya perkembangan teknologi digital juga mengharuskan GARUTKULIT bermain apik di ranah dunia maya. Dari mulai menggunakan Instagram, broadcast iklan di WAG, memaksimalkan SEO, hingga membangun website yang memudahkan pelanggan untuk bisa merasakan sensasi lain dalam berbelanja, dilakukannya secara sporadis. Alhasil, GARUTKULIT semakin bertaji sebagai pelopor produk kulit Garut yang merambah ke seluruh pelosok negeri dan juga nagri.

GARUTKULIT akhirnya telah mendaftarkan merknya di HAKI pada tahun 2016. Satu tahun kemudian CV Garut Kulit Internasional didirikan untuk memudahkan kegiatan eksport.
Asia sudah pasti menjadi target utama Ani dalam menjajal eksport produknya. Bahkan saat ini (12/05/2019), timnya telah mengikuti International Beauty Expo 2019 di Kuala Lumpur Malaysia, bersama Kementerian Perdagangan Indonesia.

“Kami sempat menerima orderan dari Amerika, Australia, bahkan Afrika. Kendala yang paling utama ada di proses pengiriman, namun kami selalu berusaha untuk memberikan servis maksimal demi memuaskan pelanggan,” tambahnya.

Kini, Ani bisa tersenyum lega. Buah perjalanannya bersama tim GARUTKULIT telah sukses membesarkan nama Garut ke penjuru dunia. Lebih pentingnya lagi, Ani berharap bersama brandnya, dia bisa memberdayakan
orang-orang di sekitarnya untuk bisa maju dan berkembang bersama. Karyawan GARUTKULIT sekarang telah berjumlah puluhan orang, semuanya terbagi di dua workshop utama di Garut dan Jakarta.

“Pekerja saya pernah bercerita, sekarang dia bisa menyekolahkan anaknya dengan tenang. Bekerja di GARUTKULIT lebih menjaminnya dalam mencari nafkah sebagai seorang ayah karena lokasinya juga yang pas. Saya terharu mendengarnya,” ungkap Ani.

Setiap waktu, doa yang selalu dipanjatkannya tak pernah berubah, semoga GARUTKULIT bisa makin sukses dan bermanfaat serta mampu membawa keberkahan untuk orang sekitar. Menjadi sosok yang berguna dan bermanfaat adalah yang paling utama.
Seperti yang Nabi Muhammad Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah berkata, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” pungkasnya.(fri)

link: https://www.kompasiana.com/rojulfan/5cd8f2dc3ba7f75f9d232be2/berbisnis-bukan-semata-urusan-materi-tapi-juga-berguna-untuk-anak-negeri

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Quick Shop
Open chat