fbpx

Inovasi Founder Garut Kulit Sumarni Rifemi Cetak Rekor Penjualan Saat Pandemi

Beradaptasi menjadi kunci bertahan di tengah pandemi Covid-19, seperti menjalani gaya hidup new normal. Begitu juga dalam bisnis, mengadopsi kenormalan baru juga mutlak dilakukan bukan hanya dari sisi protokol kesehatan namun lewat terobosan.

Seperti cerita inspiratif dari Founder dan CEO Garut Kulit Sumarni Rifemi yang mengubah orientasi bisnisnya dengan mengeksplorasi ritel atau eceran. Awalnya, pengusaha kulit asli Garut ini menggarap pasar business 2 business (B2B), ekspor dan korporat.

Hal itu diambil setelah mengamati pemesanan yang mulai turun dari Eropa dan Australia mulai akhir tahun 2019. Terutama saat di Eropa mulai menerapkan lockdown sejak Desember yang membuat penjualan anjlok.

“Brand dari Norwegia dan Australia yang di-manufacturing oleh Garut Kulit juga ikut tidak berjualan karena tutup di masa lockdown. Tentu kami juga jadi terimbas karena menghambat oderan dari luar negeri, karena kulit kan jadi barang yang sifatnya tersier,” ujar Ani membuka obrolan dengan Fimela via telepon.

Hantaman lain juga datang dari dalam negeri, di mana orderan souvenir dari klien korporat baik pemerintah dan swasta tidak sebanyak biasanya. Hingga saat semua utang pekerjaan sudah diselesaikan membuat ia memproyeksi tidak ada project masuk sampai Lebaran 2020.

Momen memasuki bulan Ramadan menjadi titik balik bagi perempuan yang sebelumnya bekerja di bidang pertambangan tersebut untuk menentukan hidup dan mati perusahaan. Dan yang terpenting tentu saja para pekerja yang kebanyakan seorang kepala keluarga menggantungkan nasib padanya.

Ingin tau gimana cerita lengkapnya? Langsung klik ke Fimela.com sekarang!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Quick Shop
Open chat